Pada pertemuan
sebelumnya kami telah menonton video contoh proses pembelajaran matematika SD di Jepang pada tingkat rendah.
Dari video tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika di SD
tingkat rendah di Jepang sudah merujuk pada pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran
yang inovatif yaitu pembelajaran yang setidaknya memenuhi kriteria: siswa
sebagai subyek pembelajaran; guru sebagai pembimbing dan fasilitator; LKS
sebagai sarana siswa untuk berlatih sekaligus panduan belajar siswa; RPP
sebagai pedoman penting dalam guru mengajar.
Pembelajaran matematika
SD kelas tinggi di Jepang tidak berbeda jauh dengan kelas rendah. Perbedaannya
identik hanya pada materi pembelajarannya. Seperti yang ditampilkan pada video,
pembelajaran matematika kelas tinggi dengan materi tentang bangun datar yaitu
segi empat. Tidak berbeda dengan kelas rendah, guru yang mengampu pelajaran
ialah sejumlah 2 orang guru. Pembelajaran diawali dengan apersepsi, kemudian
penyampaian petunjuk/intruksi proses belajar yang akan dilakukan siswa selama
kegiatan belajar. Formasi tempat duduk di awal pelajaran masih berbentuk
klasikal. Setelah penyampaian penjelasan-penjelasan oleh guru, siswa
dikelompok-kelompokkan membentuk kelompok diskusi. Dalam kelompok tersebut,
siswa akan berdiskusi untuk menemukan rumus luas dari segi empat. Selama proses
diskusi, guru sebagai seorang pembimbing memandu dan memberikan bantuan kepada
siswa. Selanjutnya, setelah diskusi selesai, salah satu anggota kelompok siswa
maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Dalam penyampaian hasil
diskusi, kelompok lain memberikan masukan, pertanyaan maupun sanggahan,
sementara guru akan turut membantu siswa dalam berdiskusi skala kelas.
Dari video yang saya
lihat kemarin, saya melihat ada sedikit perbedaan terkait penerapan metode
pembelajaran antara kelas rendah dan kelas tinggi. Meskipun dari segi metode
pembelajaran sudah identik pada pembelajaran yang inovatif yaitu dengan
menerapkan metode diskusi, akan tetapi dalam penerapannya masih terlihat
terdapat unsur otoritaritas dari guru. Karena terlihat jelas dalam video, guru
cenderung lebih banyak mengambil andil dalam proses diskusi. Selain hal tersebut,
terdapat beberapa hal lagi yang menurut saya merupakan kekurangan dari
pembelajaran matematika SD kelas tinggi tersebut. Hal tersebut terdapat dalam
proses berlangsungnya diskusi. Dapat kita lihat di sana, penyanggahan atau pun
pertanyaan dari kelompok lain cenderung hanya didominasi oleh beberapa siswa
saja. Hal ini tentu sangat kurang efektif. Seharusnya guru dapat mengambil
suatu tindakan untuk mengatasi keadaan tersebut. Untuk siswa yang jarang atau
tidak memberikan sanggahan atau dapat dikatakan lebih cenderung pasif perlu
mendapat perhatian dari guru. Guru harus mengerti segala kondisi tersebut dan
tahu apa alasan mengapa siswa tersebut tidak atau jarang memberikan sanggahan,
pertanyaan maupun masukan. Jangan sampai karena kelas didominasi hanya oleh
beberapa siswa, kemudian hal tersebut mengundang kecemburuan dari siswa lain
yang jarang berpartisipasi akatif dalam diskusi. Sehingga di sini sikap adil
dari seorang guru sangat penting adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar