Rabu, 03 April 2013

Keadilan dalam Pembelajaran yang Inovatif


Pada pertemuan sebelumnya kami telah menonton video contoh proses pembelajaran  matematika SD di Jepang pada tingkat rendah. Dari video tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika di SD tingkat rendah di Jepang sudah merujuk pada pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran yang inovatif yaitu pembelajaran yang setidaknya memenuhi kriteria: siswa sebagai subyek pembelajaran; guru sebagai pembimbing dan fasilitator; LKS sebagai sarana siswa untuk berlatih sekaligus panduan belajar siswa; RPP sebagai pedoman penting dalam guru mengajar.
Pembelajaran matematika SD kelas tinggi di Jepang tidak berbeda jauh dengan kelas rendah. Perbedaannya identik hanya pada materi pembelajarannya. Seperti yang ditampilkan pada video, pembelajaran matematika kelas tinggi dengan materi tentang bangun datar yaitu segi empat. Tidak berbeda dengan kelas rendah, guru yang mengampu pelajaran ialah sejumlah 2 orang guru. Pembelajaran diawali dengan apersepsi, kemudian penyampaian petunjuk/intruksi proses belajar yang akan dilakukan siswa selama kegiatan belajar. Formasi tempat duduk di awal pelajaran masih berbentuk klasikal. Setelah penyampaian penjelasan-penjelasan oleh guru, siswa dikelompok-kelompokkan membentuk kelompok diskusi. Dalam kelompok tersebut, siswa akan berdiskusi untuk menemukan rumus luas dari segi empat. Selama proses diskusi, guru sebagai seorang pembimbing memandu dan memberikan bantuan kepada siswa. Selanjutnya, setelah diskusi  selesai, salah satu anggota kelompok siswa maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Dalam penyampaian hasil diskusi, kelompok lain memberikan masukan, pertanyaan maupun sanggahan, sementara guru akan turut membantu siswa dalam berdiskusi skala kelas.
Dari video yang saya lihat kemarin, saya melihat ada sedikit perbedaan terkait penerapan metode pembelajaran antara kelas rendah dan kelas tinggi. Meskipun dari segi metode pembelajaran sudah identik pada pembelajaran yang inovatif yaitu dengan menerapkan metode diskusi, akan tetapi dalam penerapannya masih terlihat terdapat unsur otoritaritas dari guru. Karena terlihat jelas dalam video, guru cenderung lebih banyak mengambil andil dalam proses diskusi. Selain hal tersebut, terdapat beberapa hal lagi yang menurut saya merupakan kekurangan dari pembelajaran matematika SD kelas tinggi tersebut. Hal tersebut terdapat dalam proses berlangsungnya diskusi. Dapat kita lihat di sana, penyanggahan atau pun pertanyaan dari kelompok lain cenderung hanya didominasi oleh beberapa siswa saja. Hal ini tentu sangat kurang efektif. Seharusnya guru dapat mengambil suatu tindakan untuk mengatasi keadaan tersebut. Untuk siswa yang jarang atau tidak memberikan sanggahan atau dapat dikatakan lebih cenderung pasif perlu mendapat perhatian dari guru. Guru harus mengerti segala kondisi tersebut dan tahu apa alasan mengapa siswa tersebut tidak atau jarang memberikan sanggahan, pertanyaan maupun masukan. Jangan sampai karena kelas didominasi hanya oleh beberapa siswa, kemudian hal tersebut mengundang kecemburuan dari siswa lain yang jarang berpartisipasi akatif dalam diskusi. Sehingga di sini sikap adil dari seorang guru sangat penting adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar