Rabu, 20 Maret 2013

Penerapan Metode Hermeneutika untuk Pembelajaran Matematika



Setinggi-tingginya suatu pekerjaan, dapat dikatakan mencapai hasil yang maksimal jika pekerjaan tersebut dapat bernilai ibadah. Pekerjaan yang bernilai ibadah yaitu setidaknya pekerjaan tersebut membawa manfaat untuk orang lain, pekerjaan tersebut tidak sekedar didasarkan atas keegoisan untuk memperoleh upah, akan tetapi didasari niat yang mulia/ ibadah ( sebagai wujud pengabdian kita pada Sang Pencipta). Begitu pun seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pembimbing belajar siswa. Dalam membelajarkan suatu pelajaran kepada siswa, hendaknya didasari dengan niat untuk beribadah. Ketika sesuatu telah diniatkan untuk ibadah, maka sudah tentu apapun yang dikerjakannya  disertai rasa ikhlas tanpa paksaan dan dilaksanakan semaksimal mungkin agar bagaimana pekerjaannya tersebut dapat bernilai ibadah.
Hakikat kehidupan telah dipaparkan Bapak Marsigit dalam abstaksinya yaitu  sebagai sebuah lingkaran dan garis lurus. Sebuah lingkaran memiliki makna bahwa dalam kehidupan di dunia ini, kita pasti dihadapkan akan sesuatu yang terus berputar dan berputar, sebagai contoh kemarin ada siang, hari ini ada siang dan esok akan ada siang lagi. Begitu seterusnya hingga kehidupan ini berakhir. Kendati demikian, di dunia ini juga terdapat sesuatu yang tidak berputar atau hanya sekali terjadi dan tidak akan terulang di masa depan. Itulah yang diibaratkan garis lurus oleh Bapak Marsigit. Selain itu, lingkaran ini  jika ditarik satu garis lurus maka terciptalah sebuah spiral. Spiral ini memiliki 3 komponen, yaitu komponen yang menggambarkan suatu rutinitas (lengkungan-lengkungan); komponen yang semakin membesar; komponen yang semakin mengecil/mendetil. Sehingga, hakikat alam semesta ini yaitu meliputi sesuatu yang bersifat umum, rutinitas dan mendetil.
Setelah kita tau bagaimana hakikat kehidupan yang meliputi 3 komponen tersebut di atas, diharapkan kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Metode hermenitika merupakan salah satu metode bagaimana agar kita dapat menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dari yang disampaikan Bapak Marsigit, saya menangkap bahwa yang dimaksud metode hermeneutika yaitu metode dengan cara menafsirkan/menerjemahkan sesuatu hingga didapati makna akan sesuatu itu. Dalam pembelajaran matematika, metode hermeneutika ini penting untuk diterapkan. Berangkat dari makna metode hermenitika yang disampaikan Bapak Marsigit, yaitu “menerjemahkan dan diterjemahkan” , maka penerapannya dalam pembelajaran matematika ialah guru harus mampu menerjemahkan siswa; siswa pun harus mampu menerjemahkan gurunya; siswa harus mampu menerjemahkan matematika. Guru harus mampu menerjemahkan siswa maksudnya guru harus mengerti dan benar-benar faham karakter, kemampuan dan potensi yang dimiliki siswanya. Tujuannya agar dalam pembelajaran, siswa dapat memperoleh sesuai apa yang mereka butuhkan. Selain itu siswa juga perlu mengerti, mengenal, tidak asing dan dekat dengan gurunya. Kemudian yang paling utama yaitu siswa dapat menerjemahkan matematika yang didasari atas kemauan yang timbul dari dalam  dirinya sendiri atau bukan dengan paksaan. Dalam hal ini, guru yang tetap berperan penting untuk menciptakan kondisi agar siswa mampu menerjemahkan gurunya dan matematika itu sendiri. Kesimpulannya, jangan memaksakan siswa untuk menyenangi matematika tanpa alasan, akan tetapi bawalah siswa untuk mengenal terlebih dahulu matematika kemudian berilah mereka pembelajaran matematika yang inovatif. Biarkan siswa memaknai sendiri bagaimana sebenarnya matematika itu.
Beberapa yang membuat saya terkesan dari cerita mengenai penelitian Bapak Marsigit di suatu SD di Australia, yaitu diantaranya disediakan buah-buahan di kelas pembelajaran. Buah-buahan ini disediakan secara cuma-cuma untuk siswa. Menurut pemikiran saya pribadi, mungkin hal ini diantara tujuannya ialah agar siswa mengkonsumsi makanan yang sehat/bergizi, atau dengan perkataan lain dapat meminimalisir kemungkinan siswa makan jajan di luar yang kurang sehat. Kenapa buah-buahan? Mungkin juga hal ini tujuannya untuk mengajari siswa agar menkonsumsi makanan-makanan yang alami dan segar yang memiliki vitamin/ gizi yang banyak. Sesuatu yang cukup menarik bagi saya, sebab di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung saya belum pernah melihat/ mendengar  hal serupa ada di suatu SD di Indonesia. Hal yang berkesan berikutnya yaitu tentang tata tertib berdiskusi di sana yang isinya kurang lebih  sebagai berikut: (a) mengangkat tangan sebelum menyampaikan pendapat (b) dengarkan pendapat teman lain (c) akui hak teman lain untuk berpendapat (d) setuju atau tidak setuju diperbolehkan dengan syarat menyampaikannya dengan santun (e) setuju maupun tidak setuju adalah terhadap pendapatnya, bukan orangnya. Tata tertib tersebut mencerminkan pendidikan karakter di sana begitu diperhatikan dan dijunjung tinggi. Sungguh sesuatu yang sangat menginspirasi kita sebagai calon pendidik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar