Setinggi-tingginya
suatu pekerjaan, dapat dikatakan mencapai hasil yang maksimal jika pekerjaan
tersebut dapat bernilai ibadah. Pekerjaan yang bernilai ibadah yaitu setidaknya
pekerjaan tersebut membawa manfaat untuk orang lain, pekerjaan tersebut tidak
sekedar didasarkan atas keegoisan untuk memperoleh upah, akan tetapi didasari
niat yang mulia/ ibadah ( sebagai wujud pengabdian kita pada Sang Pencipta). Begitu
pun seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pembimbing belajar siswa.
Dalam membelajarkan suatu pelajaran kepada siswa, hendaknya didasari dengan
niat untuk beribadah. Ketika sesuatu telah diniatkan untuk ibadah, maka sudah
tentu apapun yang dikerjakannya disertai
rasa ikhlas tanpa paksaan dan dilaksanakan semaksimal mungkin agar bagaimana
pekerjaannya tersebut dapat bernilai ibadah.
Hakikat kehidupan telah
dipaparkan Bapak Marsigit dalam abstaksinya yaitu sebagai sebuah lingkaran dan garis lurus.
Sebuah lingkaran memiliki makna bahwa dalam kehidupan di dunia ini, kita pasti
dihadapkan akan sesuatu yang terus berputar dan berputar, sebagai contoh
kemarin ada siang, hari ini ada siang dan esok akan ada siang lagi. Begitu
seterusnya hingga kehidupan ini berakhir. Kendati demikian, di dunia ini juga
terdapat sesuatu yang tidak berputar atau hanya sekali terjadi dan tidak akan
terulang di masa depan. Itulah yang diibaratkan garis lurus oleh Bapak
Marsigit. Selain itu, lingkaran ini jika
ditarik satu garis lurus maka terciptalah sebuah spiral. Spiral ini memiliki 3
komponen, yaitu komponen yang menggambarkan suatu rutinitas
(lengkungan-lengkungan); komponen yang semakin membesar; komponen yang semakin
mengecil/mendetil. Sehingga, hakikat alam semesta ini yaitu meliputi sesuatu
yang bersifat umum, rutinitas dan mendetil.
Setelah kita tau
bagaimana hakikat kehidupan yang meliputi 3 komponen tersebut di atas,
diharapkan kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya.
Metode hermenitika merupakan salah satu metode bagaimana agar kita dapat
menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dari yang disampaikan Bapak Marsigit, saya
menangkap bahwa yang dimaksud metode hermeneutika yaitu metode dengan cara menafsirkan/menerjemahkan
sesuatu hingga didapati makna akan sesuatu itu. Dalam pembelajaran matematika,
metode hermeneutika ini penting untuk diterapkan. Berangkat dari makna metode
hermenitika yang disampaikan Bapak Marsigit, yaitu “menerjemahkan dan
diterjemahkan” , maka penerapannya dalam pembelajaran matematika ialah guru
harus mampu menerjemahkan siswa; siswa pun harus mampu menerjemahkan gurunya;
siswa harus mampu menerjemahkan matematika. Guru harus mampu menerjemahkan
siswa maksudnya guru harus mengerti dan benar-benar faham karakter, kemampuan
dan potensi yang dimiliki siswanya. Tujuannya agar dalam pembelajaran, siswa
dapat memperoleh sesuai apa yang mereka butuhkan. Selain itu siswa juga perlu
mengerti, mengenal, tidak asing dan dekat dengan gurunya. Kemudian yang paling
utama yaitu siswa dapat menerjemahkan matematika yang didasari atas kemauan
yang timbul dari dalam dirinya sendiri
atau bukan dengan paksaan. Dalam hal ini, guru yang tetap berperan penting
untuk menciptakan kondisi agar siswa mampu menerjemahkan gurunya dan matematika
itu sendiri. Kesimpulannya, jangan memaksakan siswa untuk menyenangi matematika
tanpa alasan, akan tetapi bawalah siswa untuk mengenal terlebih dahulu
matematika kemudian berilah mereka pembelajaran matematika yang inovatif.
Biarkan siswa memaknai sendiri bagaimana sebenarnya matematika itu.
Beberapa yang membuat
saya terkesan dari cerita mengenai penelitian Bapak Marsigit di suatu SD di
Australia, yaitu diantaranya disediakan buah-buahan di kelas pembelajaran. Buah-buahan
ini disediakan secara cuma-cuma untuk siswa. Menurut pemikiran saya pribadi,
mungkin hal ini diantara tujuannya ialah agar siswa mengkonsumsi makanan yang
sehat/bergizi, atau dengan perkataan lain dapat meminimalisir kemungkinan siswa
makan jajan di luar yang kurang sehat. Kenapa buah-buahan? Mungkin juga hal ini
tujuannya untuk mengajari siswa agar menkonsumsi makanan-makanan yang alami dan
segar yang memiliki vitamin/ gizi yang banyak. Sesuatu yang cukup menarik bagi
saya, sebab di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung saya belum
pernah melihat/ mendengar hal serupa ada
di suatu SD di Indonesia. Hal yang berkesan berikutnya yaitu tentang tata
tertib berdiskusi di sana yang isinya kurang lebih sebagai berikut: (a) mengangkat tangan sebelum
menyampaikan pendapat (b) dengarkan pendapat teman lain (c) akui hak teman lain
untuk berpendapat (d) setuju atau tidak setuju diperbolehkan dengan syarat
menyampaikannya dengan santun (e) setuju maupun tidak setuju adalah terhadap
pendapatnya, bukan orangnya. Tata tertib tersebut mencerminkan pendidikan karakter
di sana begitu diperhatikan dan dijunjung tinggi. Sungguh sesuatu yang sangat
menginspirasi kita sebagai calon pendidik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar