Simpulan
yang dapat saya ambil dari artikel tersebut ialah bahwa selama ini terdapat
kesalahan yang terus berkelanjutan tanpa disadari oleh seorang guru matematika.
Hal ini terkait dengan pola mengajar guru matematika yang selama ini kurang
tepat. Menurut saya, hal yang mendasari kesalahan itu bisa terjadi adalah
kurangnya kesadaran guru akan perannya sendiri terhadap siswanya. Dimana
seharusnya peran seorang guru adalah melayani siswa dalam belajar bukan mengajar/menggurui
siswa secara otoriter. Hal ini tampak dari fakta cara mengajar guru matematika selama
ini yang mayoritas menggunakan metode ekspositori, dimana siklusnya yaitu menerangkan
materi, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, kemudian menerangkan
kembali, begitu seterusnya. Guru terkesan menyepelekan siswanya. Guru
menganggap siswa tidak memiliki kemampuan apapun sehingga ia menempatkan siswa
hanya sebagai obyek pembelajaran. Sehingga suatu hal yang tidak mengherankan
jika selama ini tidak sedikit siswa yang menganggap matematika itu sulit dan
tidak menyenangkan untuk dipelajari.
Oleh
karenanya perlu adanya perubahan metode mengajar matematika dari tradisional
menuju inovatif. Metode mengajar yang inovatif akan lebih memberdayakan
siswa dalam proses pembelajaran, sehingga disini siswa akan berperan sebagai
subyek bukan lagi obyek pembelajaran. Sebagai subjek pembelajaran maka siswa
akan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sementara guru berperan
sebagai fasilitator dalam siswa belajar matematika. Sebagai fasilitator
tentunya guru harus selalu dapat memenuhi apa yang dibutuhkan siswa, termasuk
didalamnya yaitu menyiapkan LKS untuk sarana berlatih dan belajar siswa baik
secara mandiri maupun kelompok, menyiapkan alat peraga dan modul-modul serta sumber-sumber belajar yang variatif,
fleksibel dan menarik. Selain itu, siswa dengan keberagaman sifat, karakter,
potensi, dan bakatnya juga menuntut guru
untuk dapat memberikan kesempatan belajar, buku, kompetensi, alat peraga dan
fasilitas, serta waktu belajar yang beraneka ragam pula. Dengan begitu siswa
dapat menikmati proses belajar matematika kemudian akan timbul keikhlasan dalam
diri siswa itu sendiri untuk menyenangi matematika. Karena sesungguhnya bukan
hak guru untuk membuat siswa menyukai matematika akan tetapi rasa suka itu
harus timbul secara tulus dari diri siswa sendiri.
Selanjutnya,
layaknya tiap-tiap manusia yang mempunyai hak atas perlakuan adil, maka seorang
siswa pun menuntut untuk dapat diperlakukan adil ketika kegiatan pembelajaran
berlangsung. Ketika proses pembelajaran, hendaknya seorang guru tidak hanya
berada di depan lalu seakan hanya memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang
duduk di depan, akan tetapi harus menguasai seluruhnya. Selain itu apersepsi
dalam pengajaran matematika sangat penting adanya, agar siswa benar-benar dapat
mengapresiasikan potensi, pengetahuan dan kemampuan yang telah ia miliki dalam
kegiatan pembelajaran. Siswa begitu ingin mengaktualisasikan materi matematika
yang mereka pelajari agar dapat bermanfaat untuk dirinya, orang lain dan
kehidupan di sekitarnya. Mereka juga ingin materi pelajaran yang mereka terima
berupa materi-materi yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menarik
untuk mereka pelajari.
Pada
intinya bahwa metode mengajar inovatif sangat penting untuk diterapkan dalam
pembelajaran matematika.
Oleh : Mustatiroh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar