Kamis, 09 Januari 2014

Bahaya Lubang di Jalan



Saat kita berkendara, mungkin tidak jarang kita menjumpai lubang-lubang di jalan raya. Lubang-lubang tersebut diperkirakan disebabkan oleh kendaraan dengan muatan sangat berat yang sering melewatinya. Atau bisa juga dikarenakan jalan tersebut memang jalan yang cukup tua umurnya dan belum pernah diperbaiki.
Banyak yang menganggap bahwa lubang di jalan adalah hal yang sepele. Padahal, lubang-lubang yang terdapat di jalan raya tersebut sebenarnya sangat berbahaya. Baik  lubang tersebut kecil, besar, sedikit atau bahkan dalam jumlah yang banyak. Kerusakan jalan ini memang sangat mengancam keselamatan pengguna jalan. Pemerintah seharusnya segera mengambil tindakan ketika mengetahui, menemui atau mendapatkan laporan mengenai kerusakan jalan.
Demikian halnya masyarakat, khususnya para pengguna kendaraan hendaklah sadar akan bahaya kerusakan jalan berupa lubang-lubang yang sering dianggap sepele. Ada beberapa macam kondisi yang memungkinkan terjadinya kecelakaan akibat tidak berhati-hati saat melewati jalan yang berlubang. Pertama, ketika sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dan pengendara tidak menyadari bahwa ada lubang yang dalam di depan. Kecelakaan yang mungkin terjadi yaitu kendaraan tersandung dan jatuh. Selain itu, jika pengendara mencoba menghindari lubang tersebut secara mendadak, hal ini juga dapat menyebabkan kendaraan terpeleset serta jatuh.
Kedua, saat kondisi jalan ramai dan jumlah lubang cukup banyak. Dimungkinkan pengendara selalu mencoba menghindari lubang. Bisa jadi si pengendara menghindari lubang secara mendadak. Hal ini dapat menyebabkan kecelakaan yaitu tertabrak oleh kendaraan  belakangnya.
Demikian bahayanya lubang-lubang di jalan yang perlu mendapatkan perhatian. Pemerintah diharapkan tanggap akan hal ini. Banyaknya jalan yang mengalami kerusakan, hendaknya segera diperbaiki. Karena hal ini menyangkut keselamatan orang banyak. Sementara kita sebagai pengguna jalan hendaknya selalu mengutamakan dan mengupayakan keselamatan diri. Hendaklah berkendara dengan hati-hati. Usahakan kondisi fit saat berkendara, dan kurangi kecepatan kendaraan saat melewati jalan-jalan yang berlubang. Keselamatan kita adalah upaya kita bersama. (Mustatiroh, Mahasiswa PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta)

Selasa, 18 Juni 2013

Refleksi"Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 19: Apakah Mat Kontradiktif? (Tanggapan utk P Handarto C) "



Saya sangat setuju apa yang Bapak Marsigit sampaikan dalam elegi di atas. Selama manusia masih hidup di dunia, maka manusia tidak akan terbebas dari hukum-hukum kontradiksi dan fallibism. Sebab manusia diciptakan dengan kodrat manusiawinya yaitu berpotensi melakukan kesalahan. Kebenaran yang absolut hanyalah milik Alloh SWT. Begitu pun matematika, sistem matematika yang dibangun oleh kaum logicist-formalist-foundalist tidak mampu mencakup atau menjangkau semuanya. Konsep matematika yang mereka bangun adalah konsisten yang terbebas dari ruang dan waktu. Sehingga ketika matematika memasuki ruang dan waktu, konsep matematika kaum logicist-formalist-foundalist tersebut belum tentu masih mampu mempertahankan kekonsitensiannya.

Refleksi"Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif (Tanggapan utk Ibu Kriswianti) "



Dari elegi  di atas kita menjadi tahu bahwa memandang matematika hendaknya tidak hanya dari satu pandangan. Banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk memperoleh kebenaran hakiki. Logicist-Formalist-Foundationalist biasanya berpikir pola deduktif. Memiliki simbol yang kosong dari arti, maksudnya adalah ia terbebas dari ruang dan waktu. Pikiran dan karya kaum Logicists ialah konsisten pada sistemnya. Sementara jika pikiran dan karya tersebut tidak ada penjelasan, maka dapat dikatakan sebagai sebuah mitos dalam matematika. Untuk tidak dikatakan sebagai mitos, maka buah pikiran tersebut haruslah memiliki pembuktian atau penjelasan yang kuat.

Refleksi"Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 17: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh) "



Immanuel Kant berpendapat bahwa sebenar-benar ilmu adalah kontradiktif. Berdasarkan elegi di atas, secara filsafat definisi matematika dibagi menjadi 2 definisi yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Jadi, jika matematika dibangun dengan prinsip Identitas saja maka jelas dia bukan ilmu. Karena agar matematika merupakan Ilmu ,sebagaimana pendapat Kant maka definisi pembentuk sistem matematika haruslah bersifat kontradiktif.

Minggu, 16 Juni 2013

Refleksi"Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition "



Berdasarkan elegi di atas, intuisi matematika muncul juga melalui kompetisi matematika. Dalam suatu kompetisi matematika biasanya yang dicari ialah bagaimana siswa dapat menyelesaikan permasalahan matematika yang disajikan dengan cepat dan tepat. Dengan demikian siswa yang mengikuti kompetisi tersebut, dalam berlomba-lomba untuk memperebutkan gelar juara mereka pasti berpikir keras dalam mencari cara bagaimana ia dapat menyelesaikan permasalahan dengan cepat dan tepat. Biasanya mereka memain-mainkan imajinasinya dalam mencari jawabannya. Imajinasi yang memunculkan ide-ide tersebutlah intuisi matematika siswa. Sehingga saya sangat setuju jika kompetisi matematika dapat memunculkan intuisi matematika.

Refleksi"Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition "



Berdasarkan elegi di atas khususnya nuklikan pendapatn dari Thompson, bahwa intuisi matematika merupakan subjek dari berbudaya matematika. Sementara untuk membudayakan matematika ialah tanggung jawab semua pihak, yaitu sekolah, guru dan orang tua. Mereka bertanggung jawab agar intuisi yang dimiliki anak dapat berkembang. Caranya tidak lain adalah dengan membuat anak bebas dan aktif mencari dan menemukan sendiri gagasan/ ide-ide tentang matematika, bukan mendoktrin anak seperti sebagian besar yang guru lakukan selama ini.