Rabu, 01 Mei 2013

Selayang Pandang Ujian Nasional SD



Ujian Nasional SD kian menjelang bahkan telah berada di depan  mata. Berbagai persiapan guru maupun siswa tentu telah dipersiapkan sedemikian matang. Les sebagai tambahan jam pelajaran merupakan salah satu upaya guru dalam mendongkrak kesiapan siswa untuk menghadapi ujian nasional. Begitu pun siswa, sebagian besar siswa selain mengikuti les di sekolah juga mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Hal ini biasanya didorong oleh keinginan orang tua siswa. Orang tua yang juga tentu ingin putra/putrinya sukses ujian nasional, mengerahkan segala daya upaya untuk membantu putra/putrinya tersebut. Salah satu wujud upaya orang tua  tersebut yaitu memasukkan putra/putrinya ke suatu lembaga bimbingan belajar.
Akhir-akhir ini, Ujian Nasional SD benar-benar menjadi fokus para guru, siswa SD dan juga orang tua yang putra/putrinya hendak mengikuti Ujian Nasional khususnya. Sementara itu, di suatu kalangan tertentu Ujian Nasional tengah menjadi pokok bahasan yang cukup menarik. Kontroversi Ujian Nasional di SD pun merebak di sebagian kalangan yang memusatkan perhatian kepadanya. Ujian Nasional dianggap kurang efektif dijadikan evaluasi pembelajaran di SD.  Sebagai evaluasi pembelajaran setidaknya Ujian Nasional hendaknya mencapai beberapa kriteria. Kriteria yang pertama, bahwa Ujian Nasional di SD hendaklah dapat menjadi koreksi atas pembelajaran yang telah dilalui selama siswa menempuh pembelajaran di SD. Sebagai suatu koreksi, tentunya Ujian Nasional harus mampu memperbaiki belajar siswa. Akan tetapi, nyata-nyata Ujian Nasional di SD yang selama ini dilaksanakan justru orientasinya tidak ke arah itu. Ujian Nasional lebih menitikberatkan puncak hasil perolehan siswa untuk kemudian dijadikan modal utama dalam mendaftar sekolah tingkat selanjutnya.
Kriteria kedua yaitu Ujian Nasional hendaklah disusun oleh pihak-pihak yang benar-benar memahami tentang tujuan evaluasi, tingkat kesulitan dan bentuk soal yang sesuai, menggunakan variasi, serta mampu memperbaiki dan mengembangkan Ujian Nasional secara profesional. Jangan sampai penyusunan Ujian Nasional hanya dipasrahkan kepada pakar evaluasi yang belum pernah terjun langsung di kelas untuk mengajar. Dalam hal ini, guru sebagai pendidik yang perlu dilibatkan secara langsung dalam penyusunan dan pengembangan Ujian Nasional dengan difasilitasi oleh Depdiknas.
Perlu adanya telaah yang lebih dalam lagi mengenai manfaat Ujian Nasional sebagai sarana evaluasi siswa di SD. Apakah manfaatnya telah memenuhi kebutuhan sesuai tujuan pendidikan, standar isi, kurikulum serta pembelajaran aktual atau belum. Kurikulum pembelajaran di SD berbeda dengan kurikulum pembelajaran pada sekolah tingkat-tingkat berikutnya. Pembelajaran di SD lebih menekankan pendidikan karakter, selain itu metode pembelajaran lebih mengarah pada bermain sambil belajar. Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka kiranya Ujian Nasional masih perlu dipertimbangkan lagi untuk dijadikan sarana evaluasi belajar bagi siswa SD. Evaluasi belajar pada tingkat SD akan lebih efektif jika digunakan observasi informal, wawancara, ulangan, penampilan, portofolio, ataupun journal. Soal berupa pilihan ganda dalam Ujian Nasional SD kurang sesuai dengan prinsip pembelajaran di SD yaitu bermain sambil belajar. Pembelajaran yang demikian tentu akan lebih efektif jika digunakan cara evaluasi yang mampu memunculkan kreativitas siswa dalam menguasai pengetahuan serta pengalaman belajarnya. Ujian Nasional yang berupa soal pilihan ganda ini hanya cocok jika dijadikan bahan untuk membuat rangking atau perbandingan siswa. Oleh karenanya, kiranya pilihan ganda tetap dijadikan bentuk soal dalam Ujian Nasional SD, hendaknya itu hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan Ujian Nasional sementara lainnya dapat berupa bentuk-bentuk soal yang inovatif yang mampu memunculkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi yang diteskan.(Mustatiroh, PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar