Rabu, 20 Maret 2013

Refleksi "Mathematics and Language 7"



Berangkat dari hakikat matematika bahwa matematika sebenarnya ialah siswa itu sendiri, kita telah mendapat kesimpulan bahwa sesungguhnya tidak pada tempatnya jika siswa tidak diposisikan sebagai komponen yang aktif dalam pembelajaran. Suatu sajian masalah dalam pembelajaran matematika hendaknya merupakan hak bagi siswa untuk mengolah untuk memecahkannya dengan caranya sendiri. Jika sebuah permasalahan yang diperuntukkan untuk siswa, kemudian guru memberikan contoh penyelesaiaannya dan siswa diminta untuk mengikuti cara penyelesaian sesuai dengan contoh, sebenarnya hal tersebut tidak pada tempatnya. Walaupun sebenarnya maksud guru ialah membantu siswa dalam menemukan jalan pemecahan masalah tersebut, namun hal itu tidak lain justru akan berdampak negatif untuk siswa. Salah satu hal yang menyebabkan perkembangan intuisi siswa mati ialah hal tersebut. Dengan membiarkan siswa hanyut mengikuti contoh-contoh yang disajikan guru, secara tidak langsung guru mengajarkan siswa untuk malas mencari-cari solusi permasalahan yang berakibat  tidak berkembangnya intuisi siswa. Yang lebih tepat ialah guru membimbing siswa untuk menyelesaikan permasalahan matematika yang disajikan dengan tidak melupakan bahwa pada diri-diri siswa itu sendiri telah ada potensi dan kemampuan yang sering kali guru abaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar