Selasa, 05 Maret 2013

Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics "


Agar matematika menjadi ramah dan menyenangkan bagi siswa, pada intinya matematika harus dekat dengan siswa. Artinya, matematika hendaklah merupakan bagian dari apa-apa yang berhubungan dengan lingkungan siswa, baik itu berhubungan dengan aktivitas kesehariannya maupun segala sesuatu tentang hal-hal disekitarnya. Seperti pendapat Ebbutt dan Straker yang dipaparkan Bapak Marsigit diatas, bahwa hakikat dari matematika mencakup 4 poin, meliputi pola, pemecahan masalah, investigasi dan komunikasi.
Ketika matematika berkaitan langsung dengan kehidupan siswa, maka disitu dapat terlihat oleh siswa bagaimana peran matematika untuk kehidupan siswa, bagaimana matematika dalam kenyataannya dan satu hal yang cukup penting bahwa pada hakikatnya siswa ingin tahu apa manfaat dari mata pelajaran yang ia dapat. Begitu pun ketika matematika diaplikasikan pada kehidupan nyata, Misalnya pada poin pertama pendapat Ebbutt dan Straker bahwa matematika merupakan penelusuran pola. Matematika merupakan penelusuran pola disini, sebagai contoh, suatu keadaan atau kegiatan atau peristiwa yang berbentuk suatu narasi cerita, dapat dijelaskan melalui kalimat matematika.Sebagai contoh, Ibu mempunyai 2 jeruk, kemudian ibu membeli lagi 3 jeruk, dalam kalimat matematika 2 jeruk+ 4 jeruk. Itulah matematika merupakan penelusuran pola. Kemudian matematika merupakan pemecahan masalah. Sebagai contoh berikutnya, setelah membeli jeruk lagi, ibu ingin membagi jeruk tersebut untuk 3 anaknya, berapa jumlah jeruk yang diterima anak ibu jika ibu membaginya sama rata? Demikian contoh matematika menjadi sebuat pemecahan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar