Agar matematika
menjadi ramah dan menyenangkan bagi siswa, pada intinya matematika harus dekat
dengan siswa. Artinya, matematika hendaklah merupakan bagian dari apa-apa yang
berhubungan dengan lingkungan siswa, baik itu berhubungan dengan aktivitas kesehariannya
maupun segala sesuatu tentang hal-hal disekitarnya. Seperti pendapat Ebbutt dan
Straker yang dipaparkan Bapak Marsigit diatas, bahwa hakikat dari matematika
mencakup 4 poin, meliputi pola, pemecahan masalah, investigasi dan komunikasi.
Ketika matematika
berkaitan langsung dengan kehidupan siswa, maka disitu dapat terlihat oleh
siswa bagaimana peran matematika untuk kehidupan siswa, bagaimana matematika
dalam kenyataannya dan satu hal yang cukup penting bahwa pada hakikatnya siswa
ingin tahu apa manfaat dari mata pelajaran yang ia dapat. Begitu pun ketika
matematika diaplikasikan pada kehidupan nyata, Misalnya pada poin pertama
pendapat Ebbutt dan Straker bahwa matematika merupakan penelusuran pola.
Matematika merupakan penelusuran pola disini, sebagai contoh, suatu keadaan
atau kegiatan atau peristiwa yang berbentuk suatu narasi cerita, dapat
dijelaskan melalui kalimat matematika.Sebagai contoh, Ibu mempunyai 2 jeruk,
kemudian ibu membeli lagi 3 jeruk, dalam kalimat matematika 2 jeruk+ 4 jeruk. Itulah
matematika merupakan penelusuran pola. Kemudian matematika merupakan pemecahan
masalah. Sebagai contoh berikutnya, setelah membeli jeruk lagi, ibu ingin
membagi jeruk tersebut untuk 3 anaknya, berapa jumlah jeruk yang diterima anak
ibu jika ibu membaginya sama rata? Demikian contoh matematika menjadi sebuat
pemecahan masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar